Ada momen ketika membuka media sosial justru membuat hati terasa berat. Bukan karena iri berlebihan, tapi karena tanpa sadar membandingkan diri sendiri dengan teman-teman yang terlihat “lebih dulu sampai”.
Saya pernah merasakan itu. Diam-diam, tanpa niat.
Ketika Kabar Baik Orang Lain Datang Bertubi-tubi
Satu per satu kabar baik muncul. Ada yang menikah, naik jabatan, pindah kerja, atau memulai usaha sendiri. Semuanya terlihat berjalan maju.
Di sisi lain, hidup saya terasa jalan di tempat. Tidak buruk, tapi juga tidak istimewa. Di situ rasa tertinggal mulai muncul, meski tidak pernah diucapkan.
Bukan Iri, Tapi Mulai Mempertanyakan Diri Sendiri
Perasaan ini sering disalahartikan sebagai iri. Padahal yang muncul justru pertanyaan ke diri sendiri. Apakah saya kurang berusaha? Apakah saya salah mengambil keputusan?
Pertanyaan-pertanyaan kecil itu datang saat malam, ketika tidak ada yang perlu dijawab selain oleh diri sendiri.
Pelan-pelan Menyadari Setiap Orang Punya Waktu Sendiri
Seiring waktu, saya mulai memahami satu hal. Hidup tidak berjalan di garis start yang sama. Ada yang cepat di awal, ada yang stabil di tengah, ada juga yang menemukan jalannya belakangan.
Membandingkan proses hidup jarang membawa ketenangan. Yang ada justru membuat lupa bahwa setiap orang sedang berjuang di jalurnya masing-masing.
Penutup
Merasa tertinggal itu manusiawi. Tapi hidup bukan lomba, dan tidak ada garis finish yang sama untuk semua orang. Selama masih berjalan, berarti belum berhenti.
Semoga kita bisa lebih ramah pada diri sendiri, terutama saat melihat pencapaian orang lain.
